IAIN Takengon Gali Kearifan Lokal Gayo untuk Perkuat Ketahanan Keluarga Lewat FGD PSGA

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema "Revitalisasi Kearifan Lokal Gayo dalam Meningkatkan Ketahanan Keluarga" pada Rabu, 18 Juni 2025. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan IAIN Takengon ini menjadi upaya konkret dalam merumuskan kembali nilai-nilai budaya lokal sebagai landasan membangun ketahanan keluarga di tengah dinamika zaman. 

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas ketahanan keluarga dari berbagai perspektif. Mahliana, S.SiT, membawakan materi tentang Peran Strategis Pemerintah dalam Meningkatkan Ketahanan Keluarga, menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan dan budaya lokal. Turham AG, S.Ag., M.Pd. memaparkan materi Memaknai Hukum Adat Gayo sebagai Pilar Ketahanan Keluarga, yang menyoroti nilai-nilai hukum adat sebagai instrumen sosial dalam membangun keluarga yang kokoh.

Sementara itu, Dr. Evanirosa, MA membahas tema Membangun Keluarga Gayo yang Tangguh: Integrasi Kearifan Sosial, Budaya dan Pendidikan di Era Digital, dan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd. mengangkat topik Nilai-nilai Islam dan Adat Gayo dalam Ketahanan Keluarga: Peran KUA sebagai Mediator Kultural, yang memperlihatkan peran penting lembaga agama dalam menjembatani nilai-nilai adat dan modernitas.

Ketua LPPM IAIN Takengon, Dr. Rahayu Subakat, MA, dalam sambutannya menegaskan pentingnya merawat dan menerapkan kearifan lokal Gayo dalam kehidupan sehari-hari. “Revitalisasi ini tidak hanya sebagai kajian akademik, tetapi akan kami wujudkan dalam bentuk book chapter yang membahas ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai lokal Gayo. Harapannya, ini dapat menjadi rujukan yang aplikatif,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, menyoroti urgensi merumuskan nilai-nilai budaya Gayo yang relevan dan tidak menimbulkan persoalan dalam konteks kekinian. “Kita butuh konsep konkret agar kearifan Gayo hidup, relevan, dan mampu menjawab tantangan keluarga masa kini. Kegiatan ini bukan sekadar diskusi, tetapi harus melahirkan konsep yang nyata dalam memperkuat ketahanan keluarga,” tegasnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah menuju upaya sistematis dalam mengintegrasikan budaya Gayo ke dalam kebijakan dan program penguatan keluarga di tingkat lokal maupun nasional.