Evaluasi dan Peningkatan Kapasitas Mahasiswa KIP-K: IAIN Takengon Bekali Mahasiswa jadi Generasi Petarung

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menyelenggarakan kegiatan Evaluasi dan Peningkatan Kapasitas bagi mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) pada Selasa, 30 September 2025 di Gedung Olah Seni Takengon.

Evaluasi ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pertemuan bersama seluruh mahasiswa penerima KIP-K angkatan 2022 sampai 2025 dan pertemuan khusus dengan mahasiswa angkatan 2025 beserta orang tua/wali. Dalam kesempatan tersebut, IAIN Takengon menghadirkan dua alumni penerima KIP-K yang telah sukses melanjutkan studi ke jenjang magister, yaitu Azwar Sani (lulusan S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Zainal Abidin (S2 UIN Imam Bonjol Padang). Keduanya berbagi pengalaman inspiratif tentang bagaimana beasiswa KIP-K menjadi jembatan meraih prestasi akademik dan pengembangan diri.

Ketua Forum Mahasiswa KIP-K (Formakip) IAIN Takengon, Abdi Fahmi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa evaluasi ini menjadi sarana penyegaran sekaligus motivasi bagi mahasiswa agar berani tampil beda, lebih percaya diri, dan mampu menjalankan proses akademik secara maksimal. “Kami berharap mahasiswa KIP-K tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga proaktif dalam berbagai kegiatan serta siap mengembangkan potensi diri,” ujarnya.

Wakil Rektor I, Dr. Al Musanna, M.Ag, menegaskan bahwa mahasiswa penerima KIP-K merupakan “pasukan pejuang” yang harus ditempa dengan serius. “Hari ini hadir 200 orang yang lolos dari 360 pendaftar. Proses seleksi dilakukan dengan maksimal. Mereka adalah anak-anak yang kami harapkan tidak menjadi mahasiswa biasa, tetapi tampil sebagai generasi unggul. Untuk itu, kami butuh dukungan orang tua agar sama-sama mendampingi anak-anak ini,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa penerima KIP-K tidak diizinkan menikah selama menjalani studi, agar fokus sepenuhnya pada proses akademik.

Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, dalam arahannya menekankan pentingnya kerja keras, konsistensi, dan semangat juang. Ia mengutip pepatah dan tokoh dunia sebagai pengingat bahwa kesuksesan tidak diraih dengan cara instan. siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Ia menekankan bahwa kesungguhan dan perjuangan harus datang dari diri sendiri.

Mengutip tokoh besar dunia, ia menyebut Albert Einstein sebagai contoh bahwa keberhasilan tidak hanya soal IQ, tetapi soal upaya tanpa henti. “Bukan soal pintar, tapi siapa yang paling bersungguh-sungguh,” ujarnya.

Dalam pidatonya, ia juga menyoroti bahaya kemalasan. "Obat penyakit paling sulit dicari adalah obat malas. Dan penyakit itu ada dalam diri kita sendiri," katanya tegas.

Prof. Ridwan mengingatkan bahwa dalam Islam, berpikir adalah bagian dari ibadah. “Agama menyuruh umatnya untuk berpikir. Aku ada karena aku berpikir. Kalau ingin maju, pikiran kita harus terbuka.”

Sebagai motivasi tambahan, ia membagikan kisah inspiratif para dosen dan profesor. "Dulu, mereka belajar di malam hari, kaki direndam di ember air agar tidak ngantuk, ditemani kopi pahit. Mereka lawan rasa malas itu. Dan akhirnya, terbukti: usaha tidak mengkhianati hasil."

Mengakhiri pesannya, Prof. Ridwan mengajak para mahasiswa untuk mengenali jati diri dan berjuang menjadi generasi petarung. “Jangan jadi generasi yang sia-sia. Siapkan dirimu, jadilah petarung untuk masa depanmu.”